Rabu, 23 November 2016

Pencemaran Lingkungan Fisik dipesisir

BAB I
LATAR BELAKNG

1.1  Latar Belakang
Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak bagi semua warga negara Indonesia. Oleh karena itu, negara, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan berkewajiban melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat   tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lainnya.
Sebagai Negara kepulauan dengan wilayah laut territorial seluas 3,1 juta km2  dan 2,7 juta km2 Wilayah zona Ekonomi Ekslusif serta dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, Indonesia memiliki peluang sekaligus tantangan yang besar dalam mengembangkan dan mengelola pontensi sumberdaya laut dan pesisir yang dimiliki. Wilayah laut dan pesisir Indonesia memiliki kekayaan alam yang kaya serta menyediakan jasa- jasa lingkungan yang beragam, seperti miyak dan gas, mineral, perikanan, ekosistem terumbu karang dan mangrove, maupun pariwisata. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk sementara disisi lain sumberdaya didaratan menjadi semakin terbatas, maka wilayah laut dan pesisir beserta sumberaya yang dimiliki mejadi alternatif pedukung pembangunan nasional yang strategis di masa mendatang. Oleh karenanya  sangatlah beralasan bangsa Indonesia mengorentasikan kiprah pmbangunannya terutama pada wilayah laut dan pesisir. Namun, yang menjadi keprihatinan kita, banyak sektor kegitan pembangunan di kawasan pesisir dan laut, disamping di kawasan daratan, yang demikian pesat dewasa ini telah berdampak menurun nya kualitas lingkungan maupun kelestarian sumber daya alam akibat pencemaran lingkungan serta pemampaatan yang berlebih atas sumberdaya pesisir dan laut.      

1.2  Rumusan Masalah
Bagaimanakah Pencemaran Lingkungan Fisik dipesisir?
Apa  Penyebab Pencemaran Lingkungan Fisik dipesisir?
Bagaimana Penanggulangan Lingkungan Fisik dipesisir?
1.3  Tujuan             
Mengetahui Bagaimana Pencemaran Lingkungan Fisik dipesisir
Mengetahui apa saja Penyebab Pencemaran Lingkungan Fisik dipesisir
Mengetahui cara Penanggulangan Lingkungan Fisik dipesisir
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pencemaran Lingkungan Fisik di Pesisir
Pencemaran lingkungan fisik di pesisir merupakan permasalahan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir, antara lain berkembangnya berbagai kegiatan budidaya pada kawasan konservasi atau pada kawasan budidaya untuk kegiatan budidaya yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, sebagai akibat meningkatnya kebutuhan lahan untuk kegiatan masarakat. Pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dimaksudkan sebagai perwujudan rencana tata ruang yang mencakup berbagai kegiatan pembangunan fisik, sosial ekonomi dan budaya yang secara visual, historis atau fisik sebagai bagian ruang yang dipengaruhi oleh air laut (Dirjen Penataan Ruang, 2007).
Menurut (Cicin-Sain dan Knecht, 1998), dari sudut pandang pengelolaan pesisir dan lautan terpadu, pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang berkembang secara intensif mengakibatkan terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan (potensi lestari) dari ekosistem pesisir, seperti pencemaran, overfishing, degradasi fisik habitat dan abrasi pantai terutama pada kawasan pesisir yang padat penduduknya dan tinggi tingkat pembangunannya.

2.2 Penyebab Pencemaran Lingkungan Fisik di Pesisir
Salah satu persoalan lingkungan adalah adanya potensi pencemaran pada perairan pesisir yang ditimbulkan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang. Menurut KP3K-(Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) DKP (2009), masalah pencemaran ini disebabkan aktivitas manusia seperti :
a.       Pembukaan lahan untuk pertanian, Pembukaan lahan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik padat maupun cair yang masuk ke perairan melalui aliran sungai.
b.       Pengembangan perkotaan dan industri. Pesatnya pengembangan perkotaan dan industri telah meningkatkan jumlah limbah terutama limbah cair yang sulit dikontrol.
c.        Penebangan kayu dan penambangan di daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai (DAS).
d.      Limbah rumah tangga yang tinggal di daerah pesisir.
Menurut Cicin-Sain dan Knecht (1998), pencemaran pada perairan pesisir sebagai dampak dari adanya aktivitas ekonomi menjadi salah satu hal yang perlu ditangani dalam pengelolaan wilayah pesisir yang inovatif.

2.2.2 Dampak Pencemaran Lingkungan Fisik di Pesisir
a.     Bencana Alam
Beberapa bencana alam yang sering terjadi di wilayah pesisir adalah kenaikan muka laut, gelombang pasang tsunami.
b.      Masalah Kesehatan Umum
Limbah rumah tangga banyak mengandung mikroorganisme diantaranya bakteri, virus, fungi dan protozoa yang dapat bertahan hidup sampai kelingkungan laut. Meskipun limbah rumah-tangga mendapatkan perlakuan untukmengurangi kandungan mikroorganisme. hingga mencapai sejumlah 10.000/ml atau lebih, tetap saja mikroorganisme yang bersifat patogen ini menimbulkan masalah kesehatan manusia. Kontak langsung manusia dengan air yang terkontaminasi limbah dapat terjadimelalui kegiatan renang dan memancing, yang, merupakan penyebab utama terjadinya infeksi pada teling a, mata dan kulit- Jika limbah cair secara tidaksengaja terminum, maka akan menimbulkan masalah gastrointestinal.



c.       Pengaruh Terhadap Perikanan
Pencemaran perairan akan mempengaruhi kegiatan perikanan, karena secara langsung maupun tidak langsung akan mengurangi jumlah populasi,kerusakan habitat dan lingkungan perairan sebagai media hidupnya. Kondisi yangberpengaruh terhadap kegiatan perikanan diantaranya menunrnnya kandunganoksigen dalam perairan (anoxic) yang akan menyebabkan pembatasan habitatikan, khususnya ikan dasar dekat pantai; eutrofikasi perairan yang menyebabkan pertumbuhan alga yang tidak terkendali (blooming alga), contohnya padaperistiwa red tide yang menimbulkan keracunan pada ikan, dan terakumulasinya limbah logam berat beracun (Hg) akan menimbulkan kematian pada ikan.
d.      Kerusakan Fisik Habitat
Kerusakan f,rsik habitat wilayah pesisir dan lautan di lndonesia sehingga mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem terjadi pada ekosistem mangrove,terumbu karang, dan rumput laut. Sebagai contoh adalah luas ekosistem hutan mangrove di Indonesia yang telah mengalami penunrnan dari 5.209.543,16 ha pada tahun 1982 menjadi sekitar 2.500.000 ha pada tahun 1990 (luas penutupan mennrun sampai 50 %).

2.3 Cara Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Fisik di Pesisir
Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup diwilayah pesisir harus dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-masing. namun ada bebrapa cara penanggulangan pencemaran lingkungan fisik dipesisir yaitu :
a.       Persiapan
Dalam persiapan ini terdapat tiga kegiatan kunci yang harus dilaksanakan, yaitu
1.   Sosialisasi rencana kegiatan dengan masyarakat dan kelembagaan lokal yang
     ada.
2.   Pemilihan/pengangkatan motivator (key person) desa.
3.   Penguatan kelompok kerja yang telah ada/pembentukan kelompok
     baru.

a.       Perencanaan
Dalam melakukan perencanaan upaya penanggulangan pencemaran laut berbasis masyarakat ini terdapat tujuh ciri perencanaan yang dinilai akan efektif, yaitu
1.      Proses perencanaannya berasal dari dalam dan bukan dimulai dari luar.
2.      Merupakan perencanaan partisipatif, termasuk keikutsertaan masyarakat local.
3.      Berorientasi pada tindakan (aksi) berdasarkan tingkat kesiapannya.
4.      Memiliki tujuan dan luaran yang jelas.
5.      Memiliki kerangka kerja yang fleksibel bagi pengambalian keputusan.
6.       Bersifat terpadu.
7.       Meliputi proses-proses untuk pemantauan dan evaluasi.

b.      Penyadaran Masyarakat
Dalam rangka menyadarkan masyarakat terdapat tiga kunci penyadaran, yaitu
1.      penyadaran tentang nilai-nilai ekologis ekosistem pesisir dan laut serta manfaat penanggulangan kerusakan lingkungan.
2.      penyadaran tentang konservasi.
3.      penyadaran tentang keberlanjutan ekonomi jika upaya penanggulangan kerusakan lingkungan dapat dilaksanakan secara arif dan bijaksana.





BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
Pencemaran lingkungan fisik di pesisir merupakan permasalahan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir, antara lain berkembangnya berbagai kegiatan budidaya pada kawasan konservasi atau pada kawasan budidaya untuk kegiatan budidaya yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, sebagai akibat meningkatnya kebutuhan lahan untuk kegiatan masarakat. Salah satu persoalan lingkungan adalah adanya potensi pencemaran pada perairan pesisir yang ditimbulkan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang. Menurut KP3K-(Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) DKP (2009), Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup diwilayah pesisir harus dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-masing.

3.2     Saran
Ada tindak lanjut yang lebih baik dari pemerintah untuk melihat bahkan mengambil kebijakan untuk mengatur kawasan pesisir yang ada, apa lagi saat ini banyak pesisir yang mulai tercemar karena kegiatan atau aktivitas dari masyarakat, oleh  karena itu harus ada tindak lanjut yang baik dari pemerintah.







DAFTAR PUSTAKA




PENGENDALIAN VEKTOR DI PESISIR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kesehatan lingkungan merupakan faktor penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan merupakan salah satu unsur penentu atau determinan dalam kesejahteraan penduduk. Di mana lingkungan yang sehat sangat dibutuhkan bukan hanya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk kenyamanan hidup dan meningkatkan efisiensi kerja dan belajar.
Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini, khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kawasan pesisir juga dipahami sebagai Kawasan tempat bertemunya berbagai kepentingan, baik Masyarakat, Pemerintah Kabupaten, dan Investor dalam rangka memanfaatkan potensi kawasan pesisir. Kawasan Pesisir adalah kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam dan sangat potensial sebagai modal dasar pembangaunan nasional.

Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang kebijakan kepesisiran, tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, watak masyarakat, serta tekanan biaya hidup menyebabkan masyarakat pesisir sering melakukan perusakan lingkungan pesisir (Primyastanto, Dewi, & Susilo, 2010). Hal ini diperkuat bahwa kerusakan pesisir lebihdipengaruhi oleh faktor alam dan manusia (Gumilar, 2012). Hiariey & Romeon (2013)menambahkan tingkat pendidikan, persepsi dan pendapatan mempengaruhi kepentinganterhadap pemanfaatan wilayah pesisir. Pengaruh pendapat masyarakat terhadaplingkungan merupakan bagian dari mekanisme yang menghasilkan perilaku yang nyata darimasyarakat itu sendiri dalam menciptakan perubahan dalam lingkungan mereka (Heddy,1994). Adanya interaksi antara manusia dengan alam juga menyebabkan degradasi eksosistem (Vatria, 2010).
Pada masa Orde Baru, pengaturan wilayah pesisir dan laut lebih banyak dilakukan oleh pemerintah pusat. Hal ini dapat dilihat pada UU nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang pasal 9 ayat 2 dimana dinyatakan bahwa wilayah lautan dan wilayah udara diatur secara terpusat menurut undang-undang. Namun di masa reformasi, dengan kelahiran UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Kabupaten/Kota memiliki kewenangan mengatur wilayah perairan yang ada di wilayahnya sejauh 4 mil dari garis pantai. Selain itu juga diterbitkan Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

1.1  Rumusan Masalah
 Bagaimana Peran Vektor?
Apa Permasalahan Masyarakat di Wilayah Pesisir?
Bagaimana Pengendalian Vektor di Wilayah Pesisir?

1.2  Tujuan
Mengetahui Peran Vektor
Mengetahui Permasalahan Masyarakat di Wilayah Pesisir
Menjelaskan Bagaimana Pengendalian Vektor di Wilayah Pesisir






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Peran Vektor
Secara definisi vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Ada beberapa jenis vektor dilihat dari cara kerjanya sebagai penular penyakit. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar. Vektor potensial adalah vektor yang secara aktif berperan dalam penyebaran penyakit. Vektor ini baik secara biologis maupun mekananis selalu mencari hospesnya untuk kelangsungan hidupnya. Selain itu ada vektor pasif, artinya secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa dalam tubuh vektor ada agen patogen dan dapat menularkan agen tersebut kepada hospes lain, tetapi vektor ini tidak aktif mencari mangsanya. Dengan adanya perubahan lingkungan, kemungkinan vektor tersebut dapat berubah menjadi aktif.
Vektor biologis, dimana agen penyakit harus mengalami perkembangan ke stadium lebih lanjut. Bila tidak ada vektor maka agen penyakit kemungkinan akan mati. Contoh yang paling mudah adalah schistosomiasis, penyakit akibat cacing Schistosoma japonicum.Larva (miracidium) masuk ke dalam tubuh siput, berkembang menjadi sporocyst dan selanjutnya menjadi redia, kemudian menjadi cercaria yang akan keluar dari tubuh siput, aktif mencari definif host, melalui kulit dimana akan terjadi dermatitis (SOULSBY, 1982).
Vektor mekanis, dimana agen penyakit tidak mengalami perkembangan, tetapi hanya sebagai pembawa agen penyakit. Tidak seperti penyakit malaria atau arbovirus dimana terjadinya infeksi cukup satu kali gigitan vektor yang sudah terinfeksi, pada infeksi filaria, vektor harus sering menggigit hospesny agar terjadi infeksi. Diperkirakan lebih dari 100 gigitan agar cacing dapat bereproduksi dan menghasilkan mikrofilaria.

Vektor insidentil, vektor ini secara kebetulan hinggap pada manusia, kemudian mengeluarkan faeces yang sudah terkontaminasi agen penyakit dekat mulut. Secara tidak sengaja masuk ke dalam mulut, contohnya pada penyakit Chagas yang disebabkan oleh Trypanosoma cruzi dan vektor yang berperan adalah Triatoma bugs. Vektornya sebenarnya masuk dalam siklus silvatik, hanya diantara hewan rodensia. Manusia terkontaminasi bila vektornya masuk dalam lingkungan manusia.

2.2 Permasalahan Masyarakat di Wilaya Pesisir
Ada beberapa masalah yang terjadi dalam pembangunan wilayah pesisir dan lautan di Indonesia antara lain adalah pencemaran, degradasi fisik habitat, over eksploitasi sumberdaya alam, abrasi pantai, konservasi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya dan bencana alam. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut, khususnya di Indonesia yaitu pemanfaatan ganda, pemanfaatan tak seimbang, pengaruh kegiatan manusia, dan pencemaran wilayah pesisir.
1.   Pemanfaatan Ganda
Konsep pemanfaatan ganda perlu memperhatikan keterpaduan dan keserasian berbagai macam kegiatan. Sementara itu batas kegiatan perlu ditentukan. Dengan demikian pertentangan antar kegiatan dalam jangka panjang dapat dihindari atau diperkecil. Salah satu contoh penggunaan wilayah untuk pertanian, kehutanan, perikanan, alur pelayaran, rekreasi, pemukiman, lokasi industri dan juga sebagai tempat pembuangan sampah dan air limbah.
 Pemanfaatan ganda wilayah pesisir yang serasi dapat berjalan untuk jangka waktu tertentu, kemudian persaingan dan pertentangan mulai timbul dengan berjalannya waktu, pemanfaatan telah melampaui daya dukung lingkungan. Untuk beberapa hal, keadaan ini mungkin dapat diatasi dengan teknologi mutakhir. Akan tetapi perlu dijaga agar cara pemecahan itu tidak mengakibatkan timbulnya dampak negatif atau pertentangan baru.
2.   Pemanfaatan Tak Seimbang
Masalah penting dalam pemanfaatan dan pengembangan wilayah pesisir di Indonesia adalah ketidakseimbangan pemanfaatan sumberdaya tersebut,
ditinjau dari sudut penyebarannya dalam tata ruang nasional. Hal ini merupakan akibat dari ketimpangan pola penyebaran penduduk semula disebabkan oleh perbedaan keunggulan komparatif (comparative advantages) keaadaan sumberdaya wilayah pesisir Indonesia.Pengembangan wilayah dalam rangka pembangunan nasional harus juga memperhatikan kondisi ekologis setempat dan faktor-faktor pembatas. Melalui perencanaan yang baik dan cermat, serta dengan kebijaksanaan yang serasi, perubahan tata ruang tentunya akan menjurus kearah yang lebih baik.
1. Pengaruh Kegiatan Manusia
Pemukiman disekitar pesisir menghasilkan pola-pola penggunaan lahan dan air yang khas, yang berkembang sejalan dengan tekanan dan tingkat pemanfaatan, sesuai dengan keadaan lingkungan wilayah pesisir tertentu. Usaha-usaha budidaya ikan, penangkapan ikan, pembuatan garam, eksploitasi hutan rawa, pembuatan perahu, perdagangan dan industri, merupakan dasar bagi tata ekonomi masyarakat pedesaan wilayah pesisir.
Tekanan penduduk yang besar sering mengakibatkan rusaknya lingkungan, pencemaran perairan oleh sisa-sisa rumah tangga, meluasnya proses erosi, kesehatan masyarakat yang memburuk dan terganggunya ketertiban dan keamanan umum. Karena itu,perlu diperolehpengertian dasar tentang proses perubahan yang terjadi di wilayah pesisir. Dengan demikian,pemanfaatan sumber daya yang terkandung di dalamnya dapat dikelola dengan baik. Perlu dihayati pula bahwa sekali habitat atau suatu ekosistem rusak maka sukar untuk diperbaiki kembali.
Selain beberapa hal tersebut yang dapat memicu terjadinya kerusakan lingkungan pesisir dan laut, juga terdapat faktor lain. Kegagalan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup ditengarai akibat adanya tiga kegagalan dasar dari komponen perangkat dan pelaku pengelolaan.
 Pertama akibat adanya kegagalan kebijakan (lag of policy) yang menjadikan aspeklingkungan hanya menjadi variabel minor. Padahal, dunia internasional saat ini selalu mengaitkan segenap aktivitas ekonomi dengan isu lingkungan hidup, seperti green product, sanitary safety, dan sebagainya. Salah satu contoh dari kegagalan kebijakan tersebut adalah berkenaan dengan kebijakan penambangan pasir laut. Di satu sisi, kebijakan tersebut dibuat untuk membantu menciptakan peluang investasiterlebih pasarnya sudah jelas. Namun di sisi lain telah menimbulkan dampak yang cukupsignifikan dan sangat dirasakan langsung oleh nelayandan pembudidaya ikan di sekitar kegiatan. Bahkan secara tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah lain. Misalnya terjadi gerusan/abrasi pantai, karena karakteristik wilayah pesisirbersifat dinamis.
            Kedu, adanya kegagalan masyarakat (lag of community) sebagai bagian dari kegagalan pelaku pengelolaan lokal akibat adanya beberapa persoalan mendasar yang menjadi keterbatasan masyarakat. Kegagalan masyarakat terjadi akibat kurangnya kemampuan masyarakat untuk dapat menyelesaikan persoalan lingkungan secara sepihak, disamping kurangnya kapasitasdan kapabilitasmasyarakat untuk memberikan masukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan berkewajiban mengelola dan melindungi lingkungan. Ketidakberdayaan masyarakat tersebut semakin memperburuk posisi tawar (bargaining position)masyarakat sebagai pengelola lokal dan pemanfaat SDA dan lingkungan. Misalnya saja, kegagalan masyarakat melakukan penanggulangan masalah pencemaran yang diakibatkan oleh kurang perdulinya publik swasta untuk melakukan internalisasieksternalitas dari kegiatan usahanya. Contoh kongkrit adalah banyaknya pabrik-pabrik yang membuang limbah yang tidak diinternalisasi ke DAS yang pasti akan terbuang ke laut atau kebocoran pipa pembuangan residu dari proses ekstrasi minyak yang tersembunyi, dan sebagainya.
            Ketiga, penanggulangan permasalahan lingkungan yang ada masih bersifat parsial dan kurang terkoordinasi. Dampaknya, proses penciptaan co-existenceantar variabel lingkungan yang menuju keharmonisan dan keberlanjutan antar variabel menjadi terabaikan. Misalnya, solusi pembuatan tanggul-tanggul penahan abrasi yang dilakukan di beberapa daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa, secara jangka pendek mungkin dapat menanggulangi permasalahan yang ada, namun secara jangka panjang persoalan lain yang mungkin sama atau juga mungkin lebih besar akan terjadi di daerah lain karena karakteristik wilayah pesisir dan laut yang bersifat dinamis.
Jika dilihat dari sumber (asal) kejadiaanya, jenis kerusakan lingkungan ada yang dari luar system wilayah pesisir dan juga dari dalam wilayah pesisir itu sendiri. Pencemaran berasal dari limbah yang dibuang oleh berbagai kegiatan pembangunan (seperti tambak, perhotelan, pemukiman dan industri) yang terdapat di dalam wilayah pesisir, dan juga berupa kiriman dari berbagai kegiatan pembangunan di daerah lahan atas.
Sumber pencemaran perairan pesisir dan laut biasa terdiri dari limbah industri, limbah cair pemukinan (sewage), limbah cair perkotaan (urban stormwater), pelayaran (shipping), pertanian, dan perikanan budidaya. Bahan pencemar utama yang terkandung dalam buangan limbah tersebut berupa: sedimen, unsur hara (nutriens), logam beracun (toxic metals), pestisida, organisme eksotik, organisme pathogen, sampah dan oxygen depleting substances (bahan-bahan yang menyebabkan oksigen yang terlarut dalam air laut berkurang).
Bahan pencemar yang berasal dari berbagai kegiatan industri, pertanian, rumah tangga di daratan akhirnya dapat menimbulkan dampak negatif bukan saja pada perairan sungai tetapi juga perairan pesisir dan lautan. Dampak yang terjadi kerusakan ekosistem bakau, terumbu karang, kehidupan dari jenis-jenis biota (ikan, kerang, keong), terjadi abrasi, hilangnya benih banding dan udang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap bahan-bahan yang akan dibuang ke perairan, termasuk perairan wilayah pesisir yaitu :
1.      Macam, sifat, banyaknya dan kontinuitas bahan buangan;
2.      Kemampuan daya angkut dan pengencer perairan yang berkaitan dengan kondisi oseanografi setempat.
3.      Kemungkinan interaksi antara sifat-sifat kimia dan biologi bahan buangan dengan
lingkungan perairan.
4.      Pengaruh bahan buangan terhadap kehidupan dan rantai makanan;
5.      Proses degradasi dan perubahan biogeokimia;
6.      Prognose terhadap jumlah dan macam tambahan bahan pencemar di hari depan;




2.3 Pengendalian Vektor di Pesisir
Pengendalian vektor adalah tindakan untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh Arthropoda penular penyakit termasuk reservoir (Depkes, 2006).
2.3.1 Pengendalian Vektor
a. Pengendalian Lingkungan
Pengendalian lingkungan merupakan cara terbaik untuk mengontrol arthopodakarena hasilnyadapat bersifat permanen. contoh, membersihkan tempat-tempathidup arthopoda.
b. Pengendalian Kimia
Padapendekatam ini,dilakkan penggunaan beberapa golongan insektesida seperti golongan organiklorin, golongan organofosfat, dan golongan karbamat.namun, penggunanan insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan.
c. Pengendalian Biologi
Pengendalian Biologi di tunjukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pemakaian insektisida yang besal dari bahan-bahan beracun.contoh, pendekatan ini adalah pemeliharaan ikan.
d. Pengendalian Genetik
Dalam pendekatan ini, ada beberapa teknik yang dapat di gunakan, di antaranya stril technique, chitoplasmic incompatibility, dan chromosomal translocation.
Hal lain yang di lakukan untuk pengendalain vector di pesisir
a.       Migrasi burung
Masyarakat diharapkan mewaspadai, dan berhati-hati terhadap burung yang berimigrasi dari suatu tempat ke tempat lain. Sebab, kemungkinan burung membawa virus flu burung. Mengingat, burung-burung tersebut biasanya tersebar di pantai laut Pulau Jawa dan daerah lain yang banyak persediaan makanan burung.
Masyarakat harus melakukan gerakan lingkungan bersih dan sehat dalam menjaga kesehatannya. Dengan cara mengadakan semprotan pembasmi bakteri vaktogen dan obat insektisida untuk membunuh lalat dan larvanya dilaksanakan rutin seminggu sekali. Penyemprotan dikhususkan pada rumah penduduk di tepi pantai, pasar ayam, tempat pemotongan, dan kios ayam. penyemprotan disinfektan ini dilakukan sebagai upaya awal untuk mencegah dan menghambat berkembangnya virus flu burung.
b.      Pencegahan Vektor Masuk Di Daerah Pantai Atau Pesisir Melalui Kapal
Pencegahan vektor masuk di daerah pesisir atau pantai dengan dilaksanakannya program disinseksi yaitu untuk menghindari kapal dari serangga/vektor penyebab/penular penyakit (tikus, kecoak, nyamuk Aedes Aegypti/Anopheles) yang terbawa oleh alat angkut penumpang/barang di Pelabuhan.
Prosedur Tindakan Disinseksi Berdasarkan Peraturan Dirjen PP & PL
1. Penggunaan alat pelindung diri sebelum melakukan tindakan disinseksi misalnya, sarung tangan, masker, sepatu boat, dll
2. Penggunaan peralatan untuk disinseksi, misalnya, hand sprayer, mist blower, dan electric sprayer.
3. Pelaksanaan disinseksi dilakukan sebagai berikut:
a. Untuk bagian-bagian kapal yang tersembunyi seperti lubang-lubang kecil di lantai dan tempat-tempat sulit menggunakan hand sprayer ataupun mist blower.
b. Untuk ruang lebar terbulca menggunakan ULV electric sprayer.
c. Mengisi formulir isian yang memuat data tentang nama bahan pestisida/insektisida yang digunakan volume berat bahan pestisida yang digunakan, bahan pelami, catatan (waktu, hari dan tanggal pelaksanaan), nama petugas pelaksana dan supervisor yang bertanggungjawab.
d. Membuat laporan pelaksanaan secara tertulis.

BAB III
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
Secara definisi vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Ada beberapa masalah yang terjadi dalam pembangunan wilayah pesisir dan lautan di Indonesia antara lain adalah pencemaran, degradasi fisik habitat, over eksploitasi sumberdaya alam, abrasi pantai, konservasi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya dan bencana alam. Pengendalian vektor adalah tindakan untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh Arthropoda penular penyakit termasuk reservoir

1.2     Saran
Pengendalian vektor di wilayah pesisir bukanlah hal yang mudah, karena itu di harapkan partisipasi pemerintah, sekarang saatnya melirik dan memperhatikan wilayah pesisir, mengingat begitu banyak potensi di wilayah tersebut termasuk sebagai tempat wisata bahari. Karena itu daerah pesisir pun harus diperhatikan tingakat kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya.













DAFTAR PUSTAKA

Chandra budiman, “Pengantar Kesehatan Lingkungan”, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 2007.










  


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia yang dikaruniai akal dan budi akan selalalu berusaha dalam menemukan dan menggunakan teknologi untuk mengeksploatasi alam dalam kehidupannya. Perkembangan dalam menemukan dan mengunakan teknologi yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia dengan ruang dan waktunya.
            Kemajuan teknologi ikut memberi dampak terhadap semakin mudahnya proses komunikasi kesehatan atau penyampaian informasi-informasi kesehatan kepada masyarakat, hal ini terjadi karena media yang digunakan untuk menyampaikan informasi kesehatan tersebut pun semakin beragam, dan karena semakin beragamnya media yang tersedia, maka bukan hanya petugas-petugas kesehatan saja yang mampu menyampaikan informasi-informasi kesehatan. Pengusaha obat, makanan, minuman berlomba-lomba memanfaatkan media massa seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, pamflet, dan lain lain untuk menyebarluaskan informasi tentang kesehatan. Demikian pula para dokter pun memanfaatkan media massa untuk melayani konsultasi kesehatan mulai dari kebugaran tubuh sampai ke masalah seksual, juga lembaga-lembaga swasta, LSM, pemerintah turut memanfaatkan peranan media untuk menyebarluaskan informasi mengenai pencegahan atau cara-cara mengatasi penyakit menular dan lain lain. Pemanfaatan media massa ini sangat membantu memperluas jangkauan areal/wilayah sebaran informasi kesehatan, mempercepat informasi sampai ke sasaran yang berbeda beda geografis, kelas sosial, maupun kultular.
            Pemberian informasi kesehatan diharapkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan menjadi bertambah, yang pada gilirannya diharapkan terjadi perubahan dari yang tadinya berperilaku tidak sehat menjadi berperilaku sehat.



1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa isi studi kasus?
2.      Apa pengertian Teknologi
3.      Apa  Pengertian Radio
4.      Apa Manfaat radia Gamasi FM dalam bidang kesehatan?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan isi studi kasus
2.   Menjelaskan apa pengertian Teknologi
3. Mengetahui Pengertian Radio
4. Mengetahui bagaimanakah Manfaat radia Gamasi FM dalam bidang
kesehatan







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Studi Kasus

PEMANFAATAN MEDIA KOMUNIKASI KESEHATAN
(STUDI KASUS PADA RADIO GAMASI FM
DI KOTA MAKASSAR)

 Semakin berkembangnya kemajuan dibidang teknologi menyebabkan proses penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat kini tidak hanya dapat dilakukan oleh petugas kesehatan saja. Radio Gamasi FM merupakan  stasiun radio yang ada di  kota makasar dalam stasiun radio tersebut terdapat tiga program yang menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat, yaitu Tambara, Konsultasi Gigi, dan Bincang Seksologi bhkan Radio Gamasi juga menyiarkan berbagai obat tradisional. Setiap program tersebut memiliki makna pesan masing-masing, sesuai dengan konten yang dimiliki oleh program-program tersebut. Bentuk Pesan dari ketiga acara kesehatan tersebut ialah talkshow interactive. Simbol pesan yang dimiliki, yang meliputi bahasa, aksen, dan dialek yang digunakan dalam penyampaian informasi kesehatan tersebut ialah bergaya Makassar. Oleh karena itu, perlu dijalin kerja sama antar pihak Radio Gamasi FM dengan dinas kesehatan atau instanti yang terkait demi meningkatkan kualitas dan kuantitas dari penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat

2.2 Pengertian Teknologi
Terminologi teknologi berasal dari kata Yunani techne yang berarti seni (art)
atau ketrampilan (craft) (Hall, 2002). Dari kata itu dapat diturunkan kata teknik dan teknologi. Teknik adalah cara, metoda atau kemampuan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan ketrampilan dalam bidang tertentu. Teknologi mempunyai arti yang banyak antara lain :
1.             Penerapan ilmu pengetahun untuk tujuan-tujuan praktis;
2.            cabang ilmu pengetahuan mengenai penerapannya;
3.             kumpulan semua cara dari suatu kelompoksosial dalam memenuhi obyek-
            obyek material dari kebudayaannya (Bahtiar, 1996).
Teknologi harus selalu dipelajari apakah dalam bentuk ketrampilan manual atausebagai ilmu pengetahuan terapan (applied science). Teknologi berkembang dandikembangkan oleh karena ada tantangan dan perubahan yang timbul dari luar. Menurut Feeny (1986), teknologi kesehatan didefinisikan sebagai seperangkat teknikteknik, obat-obatan, prosedur yang digunakan oleh profesional kesehatan dalam memberikan pelayanan medis kepada perorangan dan pelayanan kesehatan dimasyarakat.
Menurut UU RI No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan yang tercantum dalam pasal 42 dinyatakan bahwa :
Ayat 1. Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan diteliti, diedarkan dan dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat.
Ayat 2. Teknologi kesehatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) mencakup
segala metode dan yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat penyakit, menyembuhkan, memperkecil komplikasi dan memulihkan kesehatan setelah sakit.

2.3 Pengertian Radio
Salah satu media yang sering digunakan dalam penyampaian informasi-informasi kesehatan adalah radio. Menurut Palapah dan Syam dalam “Studi Ilmu Komunikasi” (1980) “Istilah “radio” dimaksudkan adalah “Keseluruhan sistem gelombang suara yang dipancarkan dari stasiun dan yang dapat diterima oleh pesawat-pesawat penerima di rumah, di mobil, di kapal, dan sebagainya.” Radio merupakan sebuah alat yang dewasa ini penting sekali sebagai media dalam membentuk manusia untuk menyampaikan pesan, menghibur, membentuk pribadi pendengar, dan kontrol sosial yang pada intinaya untuk mencapai sebuh hasil dari proses yang dilakukan melalui media ini, yaitu masyarakat yang berpengetahuan (Zulpakar, 2010).

2.4 Manfaat radia Gamasi FM dalam bidang kesehatan
Di kota Makassar  terdapat radio-radio yang menyampaikan informasi-informasi kesehatan kepada masyarakat, salah satunya adalah Radio Gamasi FM. Berdasarkan beberapa data awal yang dilapangan, diketahui bahwa Radio Gamasi FM juga menaruh perhatiannya kepada bidang kesehatan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa program yang dimiliki oleh Radio Gamasi FM yang secara khusus membahas mengenai bidang kesehatan seperti “TAMBARA”, Bincang Seksologi, dan Konsultasi Gigi.
       Pihak Radio Gamasi FM memanfaatkan radio untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat, sejalan dengan teori komunikasi Lasswell, yang mengatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator melalui media kepada komunikan yang menimbulkan efek tertentu, pihak Radio Gamasi FM selaku komunikator, memanfaatkan media (radio) untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada komunikan (masyarakat) sehingga menimbulkan efek/manfaat tertentu di masyarakat. Hal ini menjadi menarik ketika dilihat kembali bahwa Radio Gamasi FM merupakan radio yang berformat musik dan hiburan, namun dalam proses penyiarannya juga terdapat siaran-siaran yang memuat informasi-informasi kesehatan. Agar derajat kesehatan masyarakat lebih baik, masyarakat perlu diberi informasi informasi tentang pola hidup sehat.
       Informan juga menyebutkan bahwa ketiga program tersebut memiliki tujuan pembuatan yang berbeda satu dengan yang lain. Acara “TAMBARA” dibuat dengan tujuan untuk mengajak masyarakat untuk melakukan pengobatan dini, apabila sakit, dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan atau obat-obatan tradisional yang ada di masyarakat. Acara Konsultasi Gigi dibuat dengan tujuan untuk memberikan masyarakat pengetahuan bagaimana menjaga dan merawat kesehatan gigi dan gusi. Sedangkan Acara Bincang Seksologi dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana menjaga keharmonisan hubungan suami istri serta menjaga kondisi kesehatan alat vital. Pihak Radio Gamasi FM secara tidak sadar, telah melakukan kegiatan promosi kesehatan dengan menyampaikan informasi-informasi kesehatan kepada masyarakat dengan memanfaatkan radio sebagai medianya.





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terminologi teknologi berasal dari kata Yunani techne yang berarti seni (art)
atau ketrampilan (craft) (Hall, 2002). Dari kata itu dapat diturunkan kata teknik dan teknologi. Istilah “radio” dimaksudkan adalah “Keseluruhan sistem gelombang suara yang dipancarkan dari stasiun dan yang dapat diterima oleh pesawat-pesawat penerima di rumah, di mobil, di kapal, dan sebagainya.” Di kota Makassar  terdapat radio-radio yang menyampaikan informasi-informasi kesehatan kepada masyarakat, salah satunya adalah Radio Gamasi FM. Berdasarkan beberapa data awal yang dilapangan, diketahui bahwa Radio Gamasi FM juga menaruh perhatiannya kepada bidang kesehatan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa program yang dimiliki oleh Radio Gamasi FM yang secara khusus membahas mengenai bidang kesehatan seperti “TAMBARA”,

3.2           Saran
Seharusnya ada tindak lanjut dari pemerintah di kota makasar terlehi kepada dinas kesehatan untuk menunjang apa yang dilakukan oleh Radio Gamasi FM karna hal tersebut merupakan salah satu cara yang baik untuk membuat derajat kesehatan masyarakat lebih baik walupun tidak sepenuhnya masyarakat menerima baik dengan hal tersebut. Tetapi dengan hal yang demikian penerapan teknologi di masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat menjadi lebih baik sudah merupakan salah satu hal yang efektif.










Daftar Pustaka

Pakku Kristian Josef., dkk, Pemanfaatan Media Komunikasi Kesehatan
            (Studi Kasus Pada Radio Gamasi FM di Kota Makassar)
,
  Makassar.
           
Diambil di
Sudiharto P., Pengembangan Teknologi Kesehatan Untuk Menjawab Tantangan
            dan Kebutuhan Masa DepanDemi Kemandirian Bangsa,2009.
Diambil di